Renungan Kitab Suci
Romo Paulus Suparmono, CM.
HARI-HARI DALAM MINGGU BIASA VI
BcE.= Bacaan Ekaristi. Bacalah perikop lengkap Injil dalam Alkitab!
Senin, 13 Februari 2012
BcE.: Mrk 8:11-13
Orang-orang Farisi meminta tanda dari sorga. Yesus dengan tegas menolak: “Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Bahkan Ia meninggalkan mereka dan bertolak ke seberang. Yesus tidak mau menjunjukkan kuasa Ilahi-Nya dengan pameran tanda-tanda ajaib, karena Ia konsisten menghormati kebebasan manusia dan tidak mau mendikte manusia dengan hal-hal luar biasa. Hingga kini masih saja ada orang yang bersikap seperti kaum Farisi, yang terus mencari-cari ‘tanda-tanda ajaib’ [seperti: nggeblag oleh penumpangan tangan, bahasa lidah / roh, dll], sehingga seperti orang Farisi, mereka juga tidak menemukan pesan Ilahi yang hakiki pada Yesus. Rasa ingin tahu dan mencari-cari tanda ajaib itu bukanlah disiposisi yang benar dalam beriman. Yesus memang melakukan banyak karya ajaib, namun bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu atau ‘selera rohani pinggiran dan sesaat’ dari manusia, melainkan untuk menggugah panggilan beriman dan komitmen memanggul salib kehidupan sehari-hari, hingga kematian egoisme kita.
Selasa, 14 Februari 2012: Peringatan St. Sirilus & St. Metodius
BcE.: Mrk 8:14-21
Yesus menggunakan beberapa peristiwa terakhir, khususnya orang Farisi yang meminta tanda, untuk mengajar para murid-Nya. Ia menggunakan bahasa kiasan: “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Namun ternyata para murid berkomentar: “Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti.” Yesus marah atas kebebalan mereka: “Mengapa kamu memperbincangkan tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah dekilkah hatimu?” Para murid gagal menangkap pesan Ilahi bahkan dalam peristiwa pergandaan roti, karena perhatian mrk masih sebatas ‘urusan perut’. Kita pun sering gagal mengerti pesan Ilahi, krn begitu terserap oleh ‘urusan perut’ atau urusan duniawi kini-di-sini. Lalu, tanpa sadar kita jadi teracuni ragi Farisi, yakni ritualisme dangkal sbg kemasan indah materialisme-praktis: ayat-ayat Alkitab dan nama Allah disalah-gunakan utk membenarkan tradisi buatan manusia, apalagi yang menyangkut uang, seperti persepuluhan. Ragi Farisi biasanya seiring-sejalan dengan ragi Herodes, berupa ambisi utk meraih pengaruh dan kekuasaan demi kepentingan duniawi. Ragi Farisi-Herodes ini berpuncak pada persekongkolan dlm meminjam tangan penguasa dunia, Pilatus, untuk menjatuhkan hukuman mati atas Yesus.
Rabu, 15 Februari 2012
BcE.: Mrk 8:22-26
Setelah membawa orang buta itu keluar kampung, Yesus lalu meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya. Si buta tidak langsung melihat dengan jelas: awalnya melihat orang-orang berjalan seperti pohon-pohon. Barulah orang itu sungguh melihat dengan jelas dan benar-benar sembuh, setelah Yesus mengulang meletakkan tangan-Nya atas dia. Sesudah itu Yesus meminta: “Jangan masuk ke kampung!” Yesus menyembuhkan orang buta itu di luar kampung dan memintanya untuk tidak segera masuk kampung setelah sembuh. Jelas, penyembuhan itu bukan untuk jadi tontonan yang mengagumkan. Kesembuhan bertahap itu juga menyimbolkan proses pencarian: tidak secara sertamerta kita menemukan dan
memeluk kebenaran Ilahi yang terang benderang. Proses beriman kadang melalui
perjalanan panjang berliku-liku dan dalam cahaya samar-samar, melalui aneka peristiwa dan sarana yang tidak terduga yang digunakan Allah. Toh dalam semuanya itu, Cahaya Ilahi sendiri membimbing kita menuju kepada-Nya.
Kamis, 16 Februari 2012
BcE.: Mrk 8:27-33
“Siapakah Aku ini?” Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias!” Namun setelah Yesus menyatakan bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, ditolak para imam kepala dan ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit pada hari ketiga, ternyata Petrus tidak mengerti dan menegor Yesus. Yesus pun dengan keras memarahi Petrus: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Ternyata Mesias yang dipikirkan Petrus barulah sebatas mesianisme-politik-kekuasaan seperti yang diharapkan oleh kebanyakan orang Yahudi. Perjalanan Petrus sampai pada kepenuhan iman yang benar pun baru setelah peristiwa derita-wafat-kebangkitan Yesus. Mengenal Allah yang rela menderita-wafat-dan-bangkit, inilah kekhasan anugerah iman Kristiani, yang membedakannya dari agama atau keyakinan iman lain. Bukankah allah-allah lain digambarkan serba-menang dan tak-terkalahkan? Namun luka-luka dan kekalahan orang benar hanya menemukan puncak makna dan di-Ilahi-kan oleh luka-luka Allah agar menjadi jalan keselamatan abadi! Dan hanya Yesus Kristus-lah Allah yang terluka-wafat-dan-bangkit!
Jumat, 17 Februari 2012
BcE.: Mrk 8:34-9:1
Setelah menyatakan bahwa Anak Manusia harus menderita sengsara, wafat dan bangkit pada hari ketiga, Yesus menantang kesetiaan para murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.” Kehilangan nyawa karena Yesus dan Injil-Nya adalah matinya kepentingan diri yang hanya melayani
dunia-egoisme kita, dan mengubah orientasi pikiran hati kita untuk mengutamakan kepentingan Ilahi yang dihadirkan oleh Yesus dalam misi-Nya di dunia. Inilah pula makna hakiki dari jalan salib! Namun sekarang bermunculan aneka aliran, kelompok, gereja yang mengembangkan teologi kemakmuran tabur-tuai dan kristologi kemuliaan Paskah tanpa melalui jalan salib. Toh banyak orang yang tertarik untuk memperoleh seluruh dunia, meski Yesus telah mengingatkan: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?” Tanpa jalan salib, tiada kemenangan Paskah! Kristus seperti apakah yang sekarang kita kenal dan kita ikuti?
Sabtu, 18 Februari 2012: Peringatan St. Francis Regis Clet
BcE.: Mrk 9:2-13
Setelah ditegur keras dan ditantang utk memanggul salib hingga kehilangan nyawa, 3 murid pilihan diajak menyaksikan & mengintip kemenangan Paskah dlm peristiwa transfigurasi: Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat… Maka nampaklah kpd mrk Elia bersama dgn Musa, keduanya sdg bercakap-cakap dengan Yesus. Itulah anugerah pengalaman kontemplasi, yg maknanya blm terpahami oleh Petrus sehingga berkata: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.” Petrus berkata begitu krn tdk tahu! Maka datanglah penegasan Allah Bapa yang bersabda: “Inilah Anak yang kukasihi, dengarkanlah dia!” Bersama itu sekonyong-konyong segalanya kembali dlm penampakan serba biasa: tinggal Yesus bersama mereka. Yesus pun segera mengajak mereka turun gunung utk melanjutkan dan menuntaskan misi Ilahi: memanggul salib hingga wafat di puncak Kalpari. Demikianlah, kontemplasi sejati harus membuahkan aksi di lahan misi memanggul salib. Maka kontemplasi atau pengalaman doa seindah apapun, kalau tdk membuahkan aksi misi Ilahi di jalan salib demi keselamatan dunia, harus dipertanyakan ke-sejati-an atau otentisitasnya.