Home » Buletin Terang » Renungan

Renungan

Mendidik Anak Tanpa-Kekerasan

 

Ia lahir di Durban, Afrika Selatan, 1934. Sempat ia mengalami himpitan hukum apartheid Afrika Selatan yang sangat diskriminatif. Sempat ia dipukul dan disingkirkan orang kulit putih Afrika Selatan karena dipandang terlalu hitam, namun bersama itu ia juga dipinggirkan oleh orang kulit hitam Afrika Selatan, karena dipandang terlalu putih. Sempat pula ia berpikir untuk mencari keadilan berdasarkan hukum mata-ganti mata. Namun ia segera belajar dari orang tua dan kakeknya bahwa keadilan itu bukanlah balas dendam, melainkan mengubah musuh dengan cinta dan penderitaan. Itulah dia, Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi.

Dalam perjalanan hidupnya, ia melanjutkan perjuangan kakeknya, menyebar-luaskan budaya damai dan perjuangan  tanpa kekerasan. Baginya, pendidikan dalam keluarga punya peran penting, sebagaimana ia sendiri mengalaminya dalam keluarganya. Berikut ini salah satu kisah pengalamannya mengenai nonviolence in parenting [orang tua mendidik anak tanpa kekerasan], yang dikisahkannya sendiri pada tanggal 5 Desember 2009:

Ketika itu Arun Gandhi berusia 16 tahun. Ia tinggal 18 mil di luar kota Durban bersama orang tuanya yang menangani sebuah yayasan yang didirikan kakeknya, di tengah perkebunan tebu. Mereka jauh dari tetangga. Karena itu dua saudarinya dan dia sangat merindukan kesempatan untuk pergi ke kota. Nah, suatu hari ia diminta untuk mengemudikan mobil dan mengantar ayahnya ke kota untuk mengikuti konferensi sehari penuh. Dengan gembira Arun menyambut kesempatan itu: ke kota Durban.

Bersama itu ibunya meminta Arun untuk membeli sejumlah barang. Ayahnya juga memintanya untuk membawa mobil ke bengkel untuk diservis. Jam lima pagi mereka telah tiba di kota. Ketika ayahnya turun dari mobil, ia berpesan kepada Arun: “Kita akan bertemu lagi di sini jam lima sore, dan kita akan pulang bersama.” Bagi Arun, tersedia waktu cukup panjang, dua belas jam, untuk merampungkan segala urusan dan nonton film.

Arun pun segera menyelesaikan segala urusannya, dan pun ia segera pergi ke gedung film yang terdekat dengan bengkel. Ia begitu menikmati film John Wayne. Tanpa ia sadari, waktu telah menunjukkan setengah enam sore. Berarti telah setengan jam ayahnya menunggu dia. Maka segera ia bergegas menuju bengkal dan memacu mobil ke tempat ayahnya yang telah menunggu. Waktu itu, telah jam enam sore. Satu jam terlambat.

Dengan nada cemas dan menyelidik ayahnya bertanya: “Mengapa kamu datang terlambat?” Arun malu untuk mengatakan secara jujur bahwa ia telah menonton film Barat, John Wayne. Maka ia menjawab ayahnya: “Mobil di bengkel belum siap, sehingga saya harus mengunggu.” Ia tidak tahu bahwa ayahnya telah mengontak bengkel.

Ketika mengetahui Arun berbohong, ayahnya berkata: “Ada yang salah dalam cara saya mendidik kamu, sehingga tidak memberimu rasa percaya diri dan kebenarian untuk mengatakan kebenaran. Maka untuk menyelidiki dimana letak kesalahan saya dalam mendidikmu, saya akan berjalan kaki dalam perjalanan pulang ke rumah sambil memikirkan dimana kesalahan saya.” Demikianlah, ayah Arun yang berpakaian resmi dan bersepatu itu segera berjalan dalam gelap di atas jalan yang sebagian besar tidak beraspal itu. Arun tidak meninggalkan ayahnya, tapi membuntuti ayahnya dengan naik mobil. Lima setengah jam mereka baru sampai rumah.

“Lima setengah jam saya menyaksikan ayah saya dalam penderitaan di jalan karena kebohongan bodoh yang saya katakan. Sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak berbohong lagi,” demikian pernyataan Arun Gandhi menutup kisah pengalamannya.

Arun Gandhi lalu menyapa para orang tua pada zaman ini dan menyampaikan pesan berikut:

“Saya sering mengenang peristiwa itu dan merenung, kalau pada waktu itu ayah saya menghukum saya sebagimana kita menghukum anak-anak kita, apakah saya pernah belajar sesuatu nilai. Saya rasa tidak. Paling-paling saya mengalami dihukum dan berlanjut dengan mengulangi kebohongan bodoh yang sama. Namun satu tindakan pendidikan tanpa kekerasan dari ayah saya itu begitu penuh kekuatan dan pengaruh, sehingga seakan-akan baru kemarin terjadi. Inilah kekuatan dari nonviolence [tanpa-kekerasan].”

Disadur dan dikisahkan ulang oleh Rm. Paulus Suparmono, CM